Di pesantren, penguasaan materi akademik dan Kitab Kuning dianggap tidak sempurna tanpa penguasaan adab (etika). Fondasi Etika Mencari Ilmu yang paling mendasar dan dipegang teguh adalah ajaran dari Kitab klasik Ta’lim Muta’allim Tariq al-Ta’allum karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji. Etika Mencari Ilmu ini bukan sekadar teori yang dihafal, melainkan praktik nyata yang membentuk seluruh rutinitas harian santri, menjadikannya kunci utama dari Pendidikan Karakter Islami di lingkungan pesantren. Penerapan Etika Mencari Ilmu inilah yang membedakan santri dari pelajar biasa.
Ta’lim Muta’allim menekankan dua aspek utama: etika terhadap guru dan etika terhadap ilmu itu sendiri. Etika terhadap guru (adab al-ustadz) diwujudkan melalui sikap hormat, patuh, dan pelayanan. Di pesantren, santri diajarkan untuk tidak mendahului perkataan Kyai, tidak berjalan di depannya, dan selalu siap membantu kebutuhan guru sebagai bentuk penghormatan. Tradisi pelayanan ini merupakan Teknik Pengajaran yang efektif untuk menanamkan kerendahan hati dan tawadhu’. Misalnya, di Pondok Pesantren Syafi’i (fiktif), jadwal pelayanan Kyai (membawakan kitab, menyiapkan air minum) diatur oleh petugas keamanan asrama (musyrif) setiap hari Sabtu dan Minggu, melibatkan santri senior secara bergiliran.
Sementara itu, etika terhadap ilmu melibatkan disiplin spiritual dan mental. Kitab ini mengajarkan pentingnya kesungguhan (jidiyyah), memilih guru terbaik, menjaga kebersihan hati (Urgensi Tarbiyah Ruhiyah), dan memilih waktu belajar yang tepat. Mengajar Santri untuk belajar dengan niat yang murni dan menjauhi maksiat dianggap sebagai prasyarat keberkahan ilmu. Konsistensi dalam menjaga wudhu saat memegang Kitab Kuning atau mendisiplinkan diri untuk tidak menunda pekerjaan adalah manifestasi dari etika ini. Ini sejalan dengan prinsip Hidup Sederhana (zuhud) yang diajarkan di asrama, yang menjauhkan santri dari gangguan duniawi.
Melalui Sistem Evaluasi yang mencakup penilaian adab dan etika, pesantren memastikan bahwa Pendidik Sekaligus Teladan (Ustadz) melihat Hasil Maksimal pada karakter santri, bukan hanya nilai ujian. Dengan menginternalisasi Ta’lim Muta’allim, santri tidak hanya Membekali Santri dengan pengetahuan tetapi juga dengan keberkahan, yang diyakini merupakan penentu utama manfaat ilmu di kehidupan masyarakat.