Era digital membawa kemudahan komunikasi, namun juga menyisipkan ancaman serius seperti Cyberbullying. Pondok Pesantren Darul Quran menyadari bahwa meskipun santri dibekali ilmu agama yang kuat, mereka tetap rentan menjadi korban atau pelaku Cyberbullying di dunia maya. Oleh karena itu, pesantren ini secara proaktif mengembangkan panduan khusus agar santri dapat bersosial media secara aman dan tetap menjunjung tinggi Etika Islam. Hal ini merupakan bagian krusial dari pendidikan karakter di abad ke-21.
Cyberbullying didefinisikan sebagai perundungan yang terjadi melalui media digital. Bentuknya beragam, mulai dari penyebaran gosip, pelecehan, ancaman, hingga penyebaran foto atau video tanpa izin. Dampak Cyberbullying sangat merusak, dapat menyebabkan masalah kesehatan mental serius pada santri, mengganggu fokus belajar, bahkan memicu depresi. Ponpes Darul Quran menegaskan bahwa perilaku perundungan, baik di dunia nyata maupun maya, sama-sama melanggar Etika Islam dan dilarang keras. Dalam Islam, menjaga kehormatan sesama Muslim adalah wajib, dan ghibah (menggunjing) serta namimah (adu domba) adalah dosa besar, yang kini diperparah oleh jangkauan luas media sosial.
Untuk mengatasi Cyberbullying, pesantren Darul Quran mengintegrasikan kurikulum Etika bermedia sosial ke dalam pendidikan akhlaq mereka. Panduan ini mencakup beberapa poin penting. Pertama, prinsip tabayyun (klarifikasi) wajib diterapkan sebelum menyebarkan informasi. Kedua, santri dilarang keras menggunakan bahasa kasar, ujaran kebencian, atau melakukan body shaming dalam bentuk komentar atau unggahan digital. Ketiga, santri diajarkan cara mengelola privasi dan keamanan akun mereka, serta langkah-langkah yang harus diambil jika mereka menjadi korban Cyberbullying, termasuk melaporkan insiden kepada pihak berwenang di pesantren.
Membangun kesadaran akan Etika bersosial media adalah kunci. Pesantren memberikan pemahaman bahwa jejak digital bersifat permanen dan dapat merusak reputasi jangka panjang. Mereka didorong untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah positif, berbagi ilmu, dan membangun jaringan profesional yang konstruktif, alih-alih sebagai arena perdebatan atau tempat penyebaran konten negatif. Selain itu, guru dan pengurus pesantren dilatih untuk mengenali tanda-tanda Cyberbullying di kalangan santri dan cara penanganannya secara psikologis dan syariah.
Dengan menjadikan Etika sebagai filter utama dalam bersosial media, Ponpes Darul Quran berhasil menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat bagi santri. Panduan ini tidak bertujuan membatasi akses, melainkan membekali santri dengan kebijaksanaan digital. Melalui edukasi yang berkelanjutan tentang Cyberbullying dan Etika digital, alumni Darul Quran diharapkan menjadi generasi Muslim yang mampu berinteraksi secara aman, positif, dan penuh tanggung jawab di tengah derasnya arus informasi media sosial.