Cinta Al-Quran & Sesama: Ponpes Darul Quran Kirim Bantuan ke Pesisir Medan

Pilar utama dalam pendidikan pesantren adalah menyelaraskan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Melalui gerakan bertajuk Cinta Al-Quran & Sesama, lembaga pendidikan ini membuktikan bahwa kecintaan terhadap kitab suci harus dimanifestasikan dalam bentuk kepedulian nyata terhadap penderitaan manusia. Ketika bencana alam menghantam wilayah pesisir, seluruh elemen pesantren bergerak serentak untuk mengumpulkan sumber daya. Semangat ini didasari oleh keyakinan bahwa membantu orang yang sedang kesulitan adalah bagian dari pengamalan ayat-ayat suci yang setiap hari mereka pelajari dan hafalkan di dalam asrama.

Implementasi dari semangat tersebut diwujudkan saat pengurus Ponpes Darul Quran mengorganisir pengiriman logistik secara mandiri. Para santri dan guru tidak hanya memberikan dukungan doa, tetapi juga menyisihkan sebagian harta dan tenaga untuk memastikan bantuan sampai ke lokasi. Sebagai institusi yang fokus pada pembentukan karakter Qurani, pesantren ingin menunjukkan bahwa seorang penghafal Al-Quran harus menjadi orang pertama yang merespons ketika lingkungan sekitarnya membutuhkan pertolongan. Hal ini menjadi laboratorium kehidupan bagi para santri untuk melatih jiwa kedermawanan dan pengorbanan demi kepentingan umat yang lebih luas.

Langkah konkret yang dilakukan adalah ketika tim relawan memutuskan untuk segera kirim bantuan berupa kebutuhan primer yang sangat mendesak. Paket bantuan tersebut berisi bahan pangan pokok, air bersih, perlengkapan ibadah, serta obat-obatan ringan. Tim menyadari bahwa akses transportasi menuju wilayah terdampak seringkali sulit pasca bencana, namun hal itu tidak menyurutkan langkah mereka. Dengan menggunakan armada darat yang disiapkan secara khusus, logistik tersebut diantar secara bertahap untuk memastikan stok kebutuhan warga di tenda darurat tetap tersedia dalam jumlah yang cukup dan layak dikonsumsi.

Wilayah yang menjadi fokus utama dalam misi kemanusiaan ini adalah kawasan pesisir Medan, yang baru saja diterjang banjir rob dan cuaca ekstrem. Masyarakat nelayan di wilayah tersebut mengalami kerugian yang sangat besar karena kerusakan rumah dan peralatan melaut. Darul Quran memilih wilayah ini karena lokasinya yang seringkali luput dari jangkauan bantuan pusat karena letaknya yang berada di pinggiran. Kehadiran para santri di tengah masyarakat pesisir membawa suasana tenang dan haru, memberikan keyakinan kepada warga bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit akibat fenomena alam yang merugikan.