Mempelajari turats atau kitab klasik merupakan ciri khas yang tak terpisahkan dari identitas pesantren. Di Pondok Pesantren Darul Quran, penguasaan atas literatur ini menjadi standar utama keilmuan seorang santri. Untuk mempermudah proses pembelajaran yang sering dianggap berat, mereka mengembangkan teknik cepat dalam memahami dan melakukan terjemah kitab kuning. Pendekatan ini memungkinkan santri untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami esensi hukum dan hikmah yang terkandung di dalam kitab-kitab klasik tersebut dengan cara yang lebih praktis.
Teknik yang diterapkan di Darul Quran dimulai dari penguatan dasar-dasar ilmu alat, yaitu ilmu nahwu dan sharaf. Tanpa pemahaman yang kuat akan kedua ilmu ini, menerjemahkan kitab gundul akan menjadi sebuah proses yang sangat melelahkan dan rawan kesalahan. Pesantren menggunakan metode modulasi yang memetakan pola kalimat secara visual. Dengan cara ini, santri dapat dengan cepat mengidentifikasi kedudukan kata dalam kalimat (i’rab) dan menerjemahkannya ke dalam konteks yang benar tanpa harus membuka kamus berulang kali.
Selain teknis tata bahasa, Darul Quran menekankan pentingnya membaca secara kontekstual. Santri diajarkan untuk memahami maksud penulis kitab (muallif) di balik setiap baris teks. Mereka tidak hanya belajar menerjemahkan kata demi kata, tetapi juga belajar menafsirkan gagasan besar di balik hukum-hukum fikih atau teori tasawuf yang disampaikan. Teknik ini sangat membantu santri dalam mempercepat proses muthala’ah atau mengulang pelajaran, sehingga mereka bisa menyelesaikan bacaan kitab yang tebal dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Kolaborasi antar santri juga menjadi bagian dari strategi ini. Mereka sering mengadakan forum diskusi intensif atau bahtsul masail di mana mereka bisa saling mengoreksi hasil terjemahan satu sama lain. Proses ini sangat efektif karena setiap santri memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengartikan sebuah kalimat yang kompleks. Dengan bertukar pikiran, mereka tidak hanya menjadi lebih cepat dalam menerjemah, tetapi juga mendapatkan wawasan yang lebih luas karena terpapar pada berbagai perspektif dalam memahami teks klasik.
Keunggulan dari metode ini adalah meningkatnya minat santri untuk mencintai kitab-kitab klasik. Seringkali, ketidaktahuan akan arti teks menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk menyukai kitab kuning. Namun, ketika mereka sudah memiliki teknik untuk membaca dan memahami isi kitab dengan cepat, rasa bosan akan hilang dan berganti dengan ketertarikan yang mendalam. Mereka mulai merasa tertantang untuk menggali lebih banyak ilmu dari sumber-sumber primer yang selama ini tersimpan rapi di perpustakaan pondok.