Kehidupan di lingkungan pesantren yang padat dengan aktivitas belajar dan interaksi sosial terkadang menimbulkan dinamika psikologis tersendiri bagi para santri. Menyadari pentingnya kesehatan mental di lingkungan pendidikan, pada tahun 2026 mulai diperkenalkan program Psychological First Aid (PFA) khusus bagi kalangan santri senior. Program ini bertujuan untuk membekali para santri dengan keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan pertama pada masalah psikologis rekan sebaya. Alih-alih hanya mengandalkan bimbingan formal dari pengasuh pondok, santri kini dilatih untuk menjadi garis terdepan dalam mendeteksi dan merespons tanda-tanda stres, kecemasan, hingga konflik sosial yang terjadi di asrama.
Keterampilan utama yang diajarkan dalam pelatihan ini adalah teknik mendengarkan aktif dan empati tanpa menghakimi. Dalam kerangka Psychological First Aid, santri diajarkan untuk menciptakan ruang aman bagi temannya yang ingin berkeluh kesah. Mereka dilatih untuk tidak terburu-buru memberikan nasihat atau dalil agama secara kaku, melainkan memberikan dukungan emosional terlebih dahulu agar beban pikiran teman mereka terasa lebih ringan. Peran santri sebagai pendengar sebaya terbukti sangat efektif karena adanya kesamaan pengalaman dan latar belakang, sehingga teman yang sedang mengalami masalah merasa lebih nyaman untuk terbuka tanpa rasa takut akan dicap negatif atau lemah imannya.
Pelatihan ini mencakup tiga pilar utama: Look, Listen, and Link. Pertama, santri diajarkan untuk “melihat” atau mengamati perubahan perilaku yang tidak wajar pada teman sekamar. Kedua, mereka belajar untuk “mendengarkan” dengan penuh perhatian guna memahami akar permasalahan. Ketiga, mereka belajar untuk “menghubungkan” atau memberikan rujukan jika masalah yang dihadapi sudah masuk dalam kategori berat yang memerlukan penanganan ahli atau pengasuh pondok yang lebih senior. Dengan menjadi pendengar yang terlatih, santri ikut berperan dalam mencegah terjadinya perundungan (bullying) serta memitigasi risiko gangguan kesehatan mental yang lebih serius di lingkungan pendidikan asrama.
Di tahun 2026, materi mengenai kesehatan mental ini mulai diintegrasikan dengan nilai-nilai akhlakul karimah yang diajarkan di pesantren. Santri diajarkan bahwa menolong saudara yang sedang mengalami kesulitan batin adalah bagian dari implementasi hadis tentang kasih sayang sesama Muslim. Program pelatihan ini juga melibatkan para psikolog profesional yang memberikan pembekalan secara berkala.