Kekayaan tradisi keilmuan Al-Qur’an tercermin dari keberagaman riwayat bacaan yang memiliki sanad yang bersambung langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Pengajaran cabang ilmu Qira’at Dalam membaca Al-Qur’an memperkenalkan santri pada variasi dialek dan kaidah pembacaan dari para imam qira’at yang mutawatir. Pemahaman mengenai perbedaan bacaan ini memperluas wawasan akademis santri serta mencegah timbulnya kesalahpahaman terhadap perbedaan lafaz ayat Al-Qur’an. Pembina tahfiz di pesantren menyajikan materi ini kepada santri yang telah menyelesaikan hafalan tiga puluh juz.
Santri diajarkan sejarah pembukuan dan penyebaran tujuh gaya bacaan imam utama atau qira’at sab’ah yang diakui keabsahannya oleh ulama dunia. Setiap imam qira’at memiliki perawi-perawi utama yang menyalurkan riwayat bacaannya dengan kaidah tajwid yang spesifik dan unik. Penjelasan mengenai perbedaan hukum imalah, isymam, ibdal, dan تسهيل diberikan dengan contoh-contoh praktis dalam mushaf khusus. Pemahaman sejarah dan kaidah ini melatih pandangan ilmiah santri yang inklusif terhadap keragaman riwayat Al-Qur’an.
Praktik membaca menggunakan riwayat selain Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim diperkenalkan secara bertahap dalam sesi setoran khusus di hadapan guru. Santri dilatih menyesuaikan dialek pengucapan serta durasi membaca sesuai dengan aturan baku dari imam qira’at yang sedang dipelajari. Ketelitian yang ekstra sangat dibutuhkan agar santri tidak mencampuradukkan kaidah dari dua riwayat bacaan yang berbeda dalam satu majelis. Penguasaan berbagai riwayat ini mengasah kecerdasan emosional dan intelektual para huffazh.
Selain keindahan pembacaan, pelajaran ilmu variasi bacaan ini menyingkap keagungan makna Al-Qur’an yang saling memperkaya penafsiran ayat antar riwayat. Perbedaan lafaz pada suatu ayat sering kali memberikan sudut pandang hukum fikih yang baru tanpa ada pertentangan makna sedikit pun di dalamnya. Santri diajak membedah tafsir ayat berdasarkan sudut pandang variasi bacaan guna memperdalam pemahaman hukum Islam secara holistik. Kajian ini membuktikan keutuhan Al-Qur’an sebagai mukjizat bahasa terbesar sepanjang sejarah.
Penguasaan cabang ilmu variasi bacaan Al-Qur’an ini merupakan jenjang keilmuan tertinggi yang menjadi kebanggaan lembaga pesantren tradisional. Santri alumni yang menguasai disiplin ilmu ini siap menjadi rujukan keilmuan Al-Qur’an yang kredibel dan memiliki Sanad keagamaan yang meyakinkan. Melestarikan tradisi sanad qira’at menjamin kemurnian lantunan Al-Qur’an dari generasi ke generasi di seluruh belahan dunia Islam. Keagungan kalam Ilahi akan terus terjaga abadi melalui pemeliharaan keilmuan qira’at ini.