Hari: 26 September 2026

dab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim Klasik

Keberkahan ilmu pengetahuan dalam tradisi pendidikan Islam sangat ditentukan oleh kesucian niat serta kepatuhan pelajar terhadap nilai-nilai etika. Pembahasan mengenai menuntut ilmu selalu merujuk pada kitab petunjuk klasik Ta’lim Muta’allim yang menjadi panduan utama para santri di pesantren. Santri diajarkan untuk menata niat belajar semata-mata demi mengharapkan ridha Sang Pencipta serta menghilangkan kebodohan dari dalam diri. Penghormatan yang tinggi kepada guru dan sumber ilmu seperti kitab menjadi syarat mutlak terbukanya pemahaman keilmuan.

Kitab ini menekankan pentingnya memilih guru yang bersikap wara, memiliki kedalaman ilmu, serta berkepribadian patut diteladani dalam kehidupan harian. Santri diajarkan untuk selalu bertindak sopan, tidak memotong pembicaraan guru, serta selalu mendoakan kebaikan bagi para pengajarnya. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi kesulitan belajar dan ketabahan tinggal jauh dari keluarga menjadi ujian mental yang wajib dilewati. Pembiasaan menjaga kesucian wudhu saat memegang kitab dan belajar menjadi bagian dari penghormatan terhadap kesucian ilmu.

Penerapan prinsip menuntut ilmu secara beretika terbukti melahirkan lulusan santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga sangat tawadhu. Santri diajarkan untuk tidak menggunakan ilmunya demi mencari popularitas duniawi, kekayaan materi, atau kesombongan di depan sesama manusia. Hubungan yang harmonis dan penuh rasa hormat antara santri dan guru menciptakan suasana belajar yang sarat dengan keberkahan batin. Ilmu yang diperoleh dengan adab yang benar akan memberikan manfaat yang luas dan bertahan lama bagi masyarakat.

Pengaturan waktu belajar, konsistensi mengulang pelajaran, serta menjaga pola makan yang halal dan tidak berlebihan menjadi kunci sukses para pencari ilmu. Santri dibiasakan untuk bangun di sepertiga malam terakhir guna memohon kepahaman ilmu dan ketetapan iman melalui shalat dan doa. Diskusi ilmiah antar sesama santri dilakukan dengan tetap menjaga etika kesantunan tanpa bermaksud menjatuhkan atau menghina pendapat teman. Tradisi penghormatan terhadap ilmu ini terus dijaga ketat agar nilai-nilai spiritual keilmuan tetap lestari.

Penanaman adab keilmuan yang kokoh menjadi pilar pembeda utama antara sistem pendidikan pesantren dan lembaga pendidikan formal modern lainnya. Nilai-nilai dalam menuntut ilmu yang bersumber dari kitab klasik ini tetap sangat relevan untuk diterapkan dalam era digital yang penuh dinamika saat ini. Para alumni santri membawa prinsip kerendahan hati ini ke mana pun mereka melangkah dan berkarya di tengah masyarakat luas. Dengan adab yang luhur, ilmu yang dimiliki akan menjadi penerang menuju jalan kebaikan universal.

Posted by admin in Berita